Tim Pengabdian kepada Masyarakat Departemen Arkeologi FIB UGM melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) di Kampung Kauman, Yogyakarta, pada Senin (29/6). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Sekretariat Takmir Masjid Gedhe Kauman ini merupakan bagian dari program pengabdian bertajuk “Strategi Pengembangan Kampung Kauman sebagai Destinasi Wisata Edukasi Arkeologi-Kesejarahan” yang turut melibatkan mahasiswa Magister Arkeologi UGM dalam pelaksanaannya.
FGD mempertemukan tim pengabdian, mahasiswa Magister Arkeologi, dan perwakilan masyarakat Kampung Kauman yang meliputi pengurus RW dan RT, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kauman, Saka Wisata Kauman, serta Takmir Masjid Gedhe Kauman. Kegiatan dipandu oleh Dr. Mahirta, M.A. selaku ketua tim pengabdian untuk menggali kondisi pengelolaan wisata, materi storytelling, serta potensi pengembangan wisata edukasi di Kampung Kauman.

Dalam diskusi, masyarakat membagikan berbagai informasi mengenai sejarah dan perkembangan Kampung Kauman. Salah satu pembahasan menyoroti keberadaan industri batik yang berkembang di Kauman, termasuk para juragan batik yang pada sekitar 1970-an mencapai sekitar 18 orang. Perkembangan industri tersebut turut memengaruhi pertumbuhan permukiman dan perubahan bentuk rumah tinggal masyarakat. Selain batik, FGD juga mengungkap keberadaan kerajinan songket Kauman yang berkembang pada sekitar 1920-an dan pernah menjadi bagian dari busana para aktivis Aisyiyah.
Aspek arsitektur menjadi salah satu potensi penting yang dibahas dalam FGD. Sejumlah rumah khatib dan rumah tinggal pengusaha batik masih menyimpan unsur bangunan lama meskipun telah mengalami perubahan. Salah satu rumah khatib yang relatif masih lengkap berada di kediaman Budi S. di RW 12. Selain itu, terdapat pula rumah dengan langgar dhuwur, yaitu ruang ibadah yang berada di bagian atas bangunan. Karakter rumah tradisional Kauman yang mengikuti pakem Jawa juga menjadi bagian dari potensi kesejarahan yang dapat dikembangkan dalam narasi wisata.
Saat ini, Saka Wisata Kauman memandu wisatawan ke sejumlah lokasi, antara lain Masjid Gedhe, Makam Kauman, Langgar Ahmad Dahlan, Langgar Dhuwur, Mushola Aisyiyah, TK ABA Kauman, Monumen Filsabilillah, dan nDalem Pengulon. Sementara itu, rumah khatib dan rumah pengusaha batik masih lebih banyak diperkenalkan melalui storytelling karena keterbatasan durasi kunjungan yang umumnya sekitar satu jam.

Diskusi juga membahas tantangan dalam pengembangan wisata, salah satunya keterbatasan kemampuan bahasa asing bagi pemandu. Sebagai salah satu alternatif, tim pengabdian mengusulkan pemanfaatan teknologi informasi melalui QR code yang memuat informasi sejarah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Potensi kerja sama dengan FIB UGM juga dibahas untuk mendukung peningkatan keterampilan bahasa asing.
Hasil FGD menjadi bahan bagi tim pengabdian dan mahasiswa Magister Arkeologi yang terlibat untuk mendukung pengembangan materi wisata edukasi Kampung Kauman. Tim juga merencanakan pelaksanaan workshop, FGD lanjutan, serta mini pameran pada akhir Oktober yang akan menampilkan berbagai informasi dan dokumentasi mengenai sejarah Kampung Kauman, termasuk batik saudagaran, rumah khatib, dan tinggalan kesejarahan lainnya.