• Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
Universitas Gadjah Mada Departemen Arkeologi
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Visi & Misi
    • Sejarah
    • Staf Pengajar
    • Struktur Organisasi
    • Fasilitas
  • Akademik
    • Program Sarjana
      • Kurikulum Program Studi S-1 Arkeologi
      • Visi & Misi S1
    • Program Master
      • Visi & Misi S2
      • Kurikulum
      • Staf Pengajar S2
    • Panduan Akademik
      • Skripsi
      • Tugas Akhir
      • KKN-PPM
      • Yudisium dan Wisuda
      • Double Degree
  • Mitra
    • Mitra Universitas
    • Mitra Nasional
  • Publikasi
    • Publikasi Dosen
    • Skripsi dan Tesis
    • Majalah Artefak
    • Janus
    • Publikasi Mahasiswa
  • Aktivitas
    • Pengabdian Masyarakat
    • Penelitian Dosen
    • HIMA UGM
    • Berita
  • Admisi
    • Beasiswa
    • Faculty Course
  • Kemitraan
  • Home
  • Headline

Museum of Our Own

  • Headline
  • 19 November 2014, 06.41
  • Oleh : adminutama

logo200Selama lebih dari 30 tahun terakhir, telah muncul kritisisme terhadap museum. Semua hal yang menjadi tindakan-tindakan umum dalam museologi sekarang ini diuji kembali, khususnya terhadap cara-cara museum melakukan kurasi terhadap koleksinya atau kerjasama museum dengan beragam stakeholder. Di bawah tekanan kritik, tindakan-tindakan museum kemudian berubah secara signifikan dan menyeluruh. Sebagai contoh, museum-museum yang menggunakan paradigma Barat telah berusaha untuk mendekolonisasi tindakannya saat mencoba mengembangkan metode baru dengan mempertimbangkan kesesuaian antara koleksi dan pameran pascakolonial. Selain di bidang pameran, perubahan metodologi juga terjadi dalam hal konservasi dan edukasi.
Untuk menguatkan museologi, banyak pelaku profesional pergi ke Eropa atau Amerika Utara untuk belajar, dilengkapi dengan berbagai pelatihan yang dilakukan di Asia sendiri. Di Indonesia, sebagai contoh, program pembelajaran formal dalam ranah museologi ini dikembangkan di beberapa universitas, umumnya dengan bantuan dari lembaga-lembaga di Barat.
Saat ini dirasa merupakan momen yang tepat untuk merefleksikan keberadaan museum-museum dan pendidikan museum di Indonesia dan di Asia secara umum. Untuk keperluan tersebut, Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, UGM menyelenggarakan kegiatan International Conference dengan topik “Museum of Our Own: In Search of Local Museology in Asia” pada tanggal 18 – 20 November 2014 bertempat di University Club Hotel, UGM, Yogyakarta.
Tidak sekedar membuat penilaian kritis dari program museologi yang dijalankan, konferensi ini lebih berfokus kepada mempertimbangkan kembali tindakan-tindakan dalam museologi yang telah didefinisikan di Barat untuk diterapkan pada museum milik kita sendiri. Apakah museum-museum lokal hanya merupakan institusi Barat yang “dihaluskan”? Bagaimana kita mengembangkan lebih jauh lagi sebuah program pendidikan yang merespon kebutuhan-kebutuhan lokal? Pertanyaan yang mendasar dari konferensi ini adalah apakah sebenarnya museum merupakan miliki kita sendiri?
Konferensi ini dibagi dalam sebuah sesi yang saling berkaitan merujuk pada topic-topik yang berbeda dalam museologi, baik dalam konsep maupun dalam level praktis.
Hadir seabgai pembicara kunci dalam acara tersebut adalah Dr. Harry Widianto (Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman) dengan topik “Museum and Heritage: A Case Study of Museum Sangiran”.
Diskusi pleno diisi oleh dua orang pembicara tamu. Pembicara tamu pertama adalah Prof. Dr. John Norman Miksic dari National University of Singapore dengan tema “Development of Museum Education in Indonesia” dan pembicara tamu kedua adalah Dr. Christina F. Kreps dari Denver University, USA, dengan tema ” Indigenous Curation in Asia”.
Diskusi paralel akan membahas lima tema, yaitu Writing Museum in Southeast Asia dengan konvenor Prof. Dr. Bambang Purwanto (Universitas Gadjah Mada), The West and The Rest, the development of the theory of museology dengan konvenor: Dr. Wayne Modest (National Museum of Worldculture, Belanda), Museum and Heritage dengan konvenor: Dr. Tular Sudarmadi (Universitas Gadjah Mada), Conservation dengan konvenor: Dr. Mahirta (Universitas Gadjah Mada), dan Museology Education in Indonesia dengan konvenor: Pim Westerkamp, M.A (National Museum of Worldculture, Belanda).
Selain kegiatan seminar, peserta konferensi juga melakukan ekskursi, yaitu ke Museum Situs Manusia Purba di Sangiran, Jawa Tengah.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Related Posts

Departemen Arkeologi UGM Hadirkan Takeshi Hasegawa dari Ibaraki University, Jepang dalam Public Lecture Paleomagnetisme

Berita Selasa, 10 Februari 2026

Yogyakarta, 28 Januari 2026 — Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan public lecture pada Rabu (28/1) di Ruang Multimedia, Gedung Margono, Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Arkeologi UGM Buka Mata Kuliah Pilihan bagi Mahasiswa Non-Arkeologi

Uncategorized Jumat, 30 Januari 2026

Program Studi S-1 Arkeologi Universitas Gadjah Mada menawarkan mata kuliah pilihan yang dapat diambil oleh mahasiswa dari luar disiplin arkeologi, sebagai upaya mendorong pembelajaran lintas disiplin serta penerapan perspektif arkeologi dalam menjawab persoalan sosial dan […].

Mahasiswa Arkeologi KKN di Sapuran Usulkan Studi Garbology Mengatasi Krisis Pengelolaan Sampah

Berita Jumat, 30 Januari 2026

Wonosobo, 30 Januari 2026 – Teodora Septina Sambarana, mahasiswi Program Studi Arkeologi UGM yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sapuran, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, mengusulkan penerapan studi garbology guna mengungkap pola perilaku […].

Camella Sukma Dara: Alumni Arkeologi UGM Paparkan Konservasi Tekstil Museum Indonesia

AlumniBerita Sabtu, 13 Desember 2025

Alumni Program Studi Arkeologi Universitas Gadjah Mada, Camella Sukma Dara, S.S., M.A., menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Konservasi Cagar Budaya yang diselenggarakan pada 13 Desember 2025.

ARSIP

  • Departemen Arkeologi UGM Hadirkan Takeshi Hasegawa dari Ibaraki University, Jepang dalam Public Lecture Paleomagnetisme
  • Arkeologi UGM Buka Mata Kuliah Pilihan bagi Mahasiswa Non-Arkeologi
  • Mahasiswa Arkeologi KKN di Sapuran Usulkan Studi Garbology Mengatasi Krisis Pengelolaan Sampah
  • Camella Sukma Dara: Alumni Arkeologi UGM Paparkan Konservasi Tekstil Museum Indonesia
  • Arkeologi UGM Terima Kunjungan Mahasiswa Arkeologi Universitas Udayana
Universitas Gadjah Mada

DEPARTEMEN ARKEOLOGI
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Jl. Sosio-Humaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281
T: 0274-513096 F: 0274-550451
E-Mail: arkeologi@ugm.ac.id

© DEPARTEMEN ARKEOLOGI UGM