Wonosobo, 30 Januari 2026 – Teodora Septina Sambarana, mahasiswi Program Studi Arkeologi UGM yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sapuran, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, mengusulkan penerapan studi garbology guna mengungkap pola perilaku masyarakat terkait pengelolaan sampah. Pendekatan ini memandang limbah sebagai artefak kontemporer yang mencerminkan kebiasaan konsumsi secara akurat.
Studi garbology berasal dari Tucson Garbage Project yang dipelopori William Rathje pada 1973. Penelitian tersebut mengungkap bahwa masyarakat membuang 10 persen makanan yang dibeli dan mengonsumsi alkohol dua hingga tiga kali lebih tinggi daripada laporan survei. “Limbah lebih jujur daripada survei,” tegas Teodora, mengutip Rathje & Murphy (2001).
Desa Sapuran, yang memiliki potensi wisata budaya di tengah alam hijau, menghadapi tantangan minimnya kesadaran pengelolaan sampah. Limbah plastik, botol minuman, dan sampah rumah tangga sering dibuang ke sungai, membentuk lapisan limbah modern yang berpotensi memicu longsor atau pencemaran. “Studi garbology dapat mengidentifikasi pola konsumsi saat ini, mencegah akumulasi sampah, serta melindungi situs sejarah desa,” jelasnya.
Secara nasional, Indonesia menghasilkan 68 juta ton sampah per tahun (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2025), dengan 46 persen sungai tercemar. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang menampung 8.000 ton sampah harian, sementara Sungai Citarum menerima 15.838 ton per hari, menjadikannya sungai tercemar terburuk di dunia (World Bank, 2023). Di Sapuran, pembuangan ke Daerah Aliran Sungai merusak ekosistem dan mewariskan risiko kesehatan bagi generasi mendatang.
Metodologi garbology mencakup klasifikasi limbah ke dalam 35 kategori, seperti organik, plastik, dan logam, dengan teknik ekskavasi grid 1,5 x 1,5 meter. Penelitian Rathje pada 1980-an menemukan bahwa kemasan makanan ringan mendominasi sampah, mengindikasikan konsumsi berlebih yang tidak diakui responden survei. “Pendekatan ini lebih akurat daripada survei subjektif,” tambah Teodora.
Garbology bersifat preskriptif. Analisis limbah dapat menjadi dasar program pelatihan pemilahan sampah, pendirian bank sampah, dan pengembangan usaha sosial berbasis daur ulang, dengan target pengurangan sampah di DAS sebesar 30% serta keterlibatan 70% masyarakat. Limbah saat ini berpotensi menjadi situs arkeologi kebencanaan di masa depan jika tidak segera diatasi.
Sebagai perbandingan, masyarakat prasejarah Eropa meninggalkan kjökkenmöddinger sekitar 10.000 SM yang mengungkap pola konsumsi mereka, sementara limbah tradisional Indonesia terurai secara alami menjadi pupuk. Industrialisasi telah mengubah dinamika ini secara drastis, sehingga pemilahan sampah sejak dini menjadi langkah krusial menuju keberlanjutan.